22 Mei 2012

Jahur di Simpang 2 Pesan

Bedah dan Diskusi Puisi Uniflor-SMAK Ndao

Oleh Frans Anggal
 

Di pantai ini Jahur bermimpi
Mimpi menjadi seorang manusia
Tapi Jahur sesungguhnya manusia
Lahir dari seorang wanita 
Berasal dari seorang pria 
Hanya ia merasa bukan manusia
Lantaran hidupnya terlampau kejam
(rakyat jelata, ia. Ya rakyat jelata!
Memang ditakdir untuk diperintah)
Maka ia selalu bermimpi
untuk berenang sebebas ikan
untuk terbang seluas angkasa
dan coba berjalan seperti manusia

“Menjadi Manusia”. Itulah judulnya. Puisi karya penyair John Dami Mukese, 1983. Termuat dalam kumpulan puisinya, Puisi-Puisi Jelata, Nusa Indah, 1992.

“Menjadi Manusia”  dibedah dan didiskusikan di aula SMAK Model Frateran Ndao,  Ende, Jumat 18 Mei 2012. Mahasiswa Semester IV Kelas  E Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)  Universitas Flores (Uniflor) menggandeng sekolah mitra SMAK Ndao, diwakili siswa Kelas XI Bahasa. SMAK Ndao adalah titik star safari bedah dan diskusi puisi pada beberapa sekolah mitra di Kota Ende selama beberapa pekan.

Maria Katarina Tini membacakan tuntas puisi  ini sebelum rekan-rekannya beraksi dan berkolaborasi dalam bedah dan diskusi. Dorotea Pano, Muhamad Warnemen, dan Yohana Wona bertindak sebagai pemateri. Maria Yunita Nona Nesti  sebagai moderator. Wihelmina Hadia sebagai notulis. Dan Herman Emanuel Nggano, sebagai pamungkas, menyentilkan refleksi akhir.

Bedah dan diskusi ini bertajuk “Mimpi Sang Jelata: Deskripsi Penderitaan Rakyat dalam Puisi ‘Menjadi Manusia’ Karya John Dami Mukese”. Berlangsung sekitar tiga jam, sejak pukul 08.30. Diawali sapaan Ketua Panitia Pelaksana Wilhelmus Tule dan sambutan Felix Pandai mewakili kepala SMAK Ndao, kegiatan ini  dibuka  oleh Alexander Bala Gawen ketua Program Studi PBSI FKIP Uniflor, dan ditutup dengan penyerahan cenderamata dari Uniflor kepada SMAK Ndao.

Suasana terasa hangat saat diskusi berlangsung. Tiga sesi pertanyaan diborong habis oleh guru dan siswa Ndao.  Mereka melontarkan sekitar sepuluh pertanyaan. Kebanyakan siswa mengajukan pertanyaan informatif.

Diskusi diakhiri dengan masukan dari para guru dan dosen. Dari SMAK Ndao: Felix Pandai,  Domi Mare, Frater Raymundus BHK, dan Frater Patris BHK. Dari Uniflor: Alexander Bala Gawen, Suster Wilda CIJ (pengampu mata kuliah Kajian Apresiasi Puisi), Yohanes Sehandi, Eta Bali Larasati, Veronika Genoa, Salestinus Bagung, dan Frans Anggal.

Perjuangan Hidup

Dalam pemaparan, usai membacakan biografi penyair, pemateri membeberkan latar belakang penciptaan.

Puisi “Menjadi Manusia” merupakan rekaman kegelisahan zaman, kejanggalan keadaan, kemuraman, dan keprihatinan yang sedang terjadi dalam kehidupan zaman ini. Ada jurang pemisah yang dalam antara rakyat jelata yang diperintah dan pemimpinnya yang memerintah. Jurang itu menganga sedemikian lebarnya. Maka, si manusia Jahur yang terpuruk jauh di bawah merasa seakan-akan bukan manusia. Karena itulah ia selalu bermimpi: menjadi manusia.

Dalam konteks tersebut, menjadi manusia bermakna konotatif. Yaitu kerinduan seseorang untuk  keluar dari situasi hidupnya yang penuh tekanan, penderitaan, ketidakdilan, dan perlakukan tidak manusiawi. Pemateri menggolongkan kerinduan seperti ini sebagai perjuangan. “…  perjuangan dalam menemukan makna hidup sebagai manusia yang sesungguhnya.”

Seperti apakah manusia sesungguhnya yang diidam-idamkan Jahur? Pemateri merujuk ke imageri atau daya bayang atau citraan dalam puisi ini. Yaitu imageri visual: … berenang sebebas ikan / … terbang seluas angkasa / … berjalan seperti manusia. Dengan kata lain: kebebasan, keleluasaan, kemerdekaan. Itulah mimpi Jahur. Menjadi manusia yang merdeka dari segala bentuk penderitaan dan keterbelengguan.

Oleh karena itu, amanat atau pesan moral yang terkandung dalam puisi ini adalah bermimpi. Tidak dalam pengertian psikologis sebagai bunga tidur, tetapi dalam pengertian etis sebagai kerinduan yang dalam, tekad yang bulat, kemauan yang kuat untuk menjadi manusia berharkat dan bermartabat. Dalam pengertian inilah bermimpi merupakan perjuangan. Perjuangan dalam diam. Silent struggle. Dan itu bukan tanpa manfaat. Sebab, di mana ada kemauan, di situ ada jalan.

Maka, tidak mengejutkan, pemateri menyebut Jahur sebagai “manusia idola”,  dalam pengertian sebagai model, teladan, patut dicontohi. Amanatnya pun menjadi sebuah imperatif moral: jadilah seperti Jahur!

Ketakberdayaan Jelata

Usai pemaparan materi dan setelah tiga sesi tanya-jawab yang lebih banyak bersifat informatif, diskusi mengerucut ke amanat yang justru sebaliknya. Dalam catatan kritis para dosen mengentallah simpulan bahwa Jahur tidak patut dijadikan model.

“Jahur hanya bermimpi. Tahunya cuma bermimpi dan berhenti pada mimpi. Dia tidak bangkit berjuang melawan ketidakadilan yang ia keluhkan. Puisi ini bukan puisi perjuangan hidup. Ini puisi ketakberdayaan jelata,” kata Frans Anggal.

“Puisi ini bukan puisi perjuangan, tapi puisi tentang harapan,” timpal Yohanes Sehandi. Menurut kajiannya, tema-tema puisi John Dami Mukese berpusar sekitar renungan, keluhan, harapan, dan doa. “Tak ada gugatan atau pemberontakan.”

Betolak dari cara pandang yang sama, Eta Bali Larasati memandang Jahur  sebagai personifikasi orang NTT, yang berhenti pada mimpi dan belum benar-benar merealisasikan mimpinya. “Untuk menjadi manusia, tak cukup berhenti pada mimpi,” pesannya kepada para pelajar dan mahasiswa.

 Veronika Genoa menekankan pentingnya kesungguhan dalam berjuang. “Mahasiwa dan pelajar jangan hanya bermimpi seperti Jahur.”

Salestinus Bagung melihat isi puisi ini tentang mimpi. “Tak ada strategi atau tindakan perjuangan,” katanya. Maka, “Jangan hanya bermimpi!”

Keterbukaan Puisi

Seakan berdiri di persimpangan, Suster Wilda CIJ merangkum dua Jahur itu. Pertama, jadilah seperti Jahur: berkerinduan dalam, bertekad bulat, berkemauan kuat sebagai prasyarat sebuah perjuangan. Kedua, jangan jadi seperti Jahur: hanya bermimpi dan berhenti pada mimpi.

Kedua pesan itu sah. Ibarat berada di simpang dua. Setelah meniti ruas yang satu dan sama, orang boleh berlainan arah di titik persimpangan. Itulah keunggulan puisi: terbuka terhadap berbagai persimpangan apresiasi. Persimpangan, jelas, bukanlah penyimpangan. Maka, semuanya sah-sah saja.

“Tiap orang bisa berapresiasi,” kata Suster Wilda. Akibatnya, kesan dan pesan puisi bisa bermacam-macam. Tidak jarang pesan dan kesan itu berlainan bahkan bertentangan dengan maksud si penyair. Itu tidak jadi soal. Sebab, begitu selesai ditulis dan dipublikasikan, puisi itu otonom, lepas dari kendali penyair. “Begitu puisi lahir, penyairnya mati,” tandas Suster Wilda.

Perlu Dilanjutkan

Bedah dan diskusi ini sangat berkesan bagi para guru dan siwa SMAK Ndao. Mereka berharap, ini bukan kegiatan  pertama dan terakhir.

“Prosesnya sangat memuaskan,” kata Felix Pandai.

“Pada zaman saya kuliah di Uniflor, tidak pernah saya alami yang seperti ini. Kegiatan ini saya apresiasi,” kata Frater Raymundus BHK.

“Saya senang, siswa-siswi bicara. Tidak semua orang pada usia mereka bisa dan berani kemukakan pendapat,” kata Frater Patris BHK.

Kesan siswa? “Dengan kegiatan ini, kami lebih paham tentang cara memahami tiap jengkal puisi,” kata Cici Mawar. Ia mewakili  Kelas XI Bahasa. “Sering-seringlah kegiatan seperti ini. Saya dan teman-teman bangga sebagai orang Bahasa.” ***

Flores Pos, Selasa 22 Mei 2012

Tidak ada komentar: