Oleh Frans Anggal
EMBUN 1
Kulihat dunia dalam sebutir embun
Menggantung di ujung kuncup dahlia
Datangnya di sunyi malam
Lenyapnya di riuh pagi
Terima kasih Tuhan
Kau celikkan mataku
Kulihat dunia dalam sebutir embun
Menggantung di ujung kuncup dahlia
Datangnya di sunyi malam
Lenyapnya di riuh pagi
Terima kasih Tuhan
Kau celikkan mataku
Ende, 24
Februari 2012
EMBUN 2
Malam tadi kau lelap
Pagi ini kau kerlap
Siang nanti kau lenyap
Semuanya dalam senyap
Malam tadi kau lelap
Pagi ini kau kerlap
Siang nanti kau lenyap
Semuanya dalam senyap
Ende, 26
Januari 2013
EMBUN 3
Datangmu hanya sejenak
Hilangmu dalam sekejap
Tapi kau t’lah kabari kami
Bernas makna hidup sejati
Apa artinya berkanjang lama
Kalau hanya kerontangkan jiwa
Apa artinya serba berlimpah
Kalau karena mengisap darah
Singkat tak berarti laknat
Lama belum tentu berkat
Bergunalah seminggu tapi mekar
Percumalah sewindu tapi memar
Ende, 31 Januari 2013
MALAM
Ketika
diam lebih berbicara
Buat apa lagi berkata-kata?
Beralihlah bumi
Dari bunyi ke sunyi
Buat apa lagi berkata-kata?
Beralihlah bumi
Dari bunyi ke sunyi
Ende, 4
Januari 2013
PAGI
Pagi
datang lagi:
Sunyi itu
pergi
Bunyi itu
kembali
Ah, tidak!
Tiada yang
pergi
Tiada yang
kembali
Sunyi dan
bunyi
Seamsal
sejoli
Setia
sampai mati
Buktinya
dalam bakti:
Berbunyi
dalam sunyi
Bersunyi
dalam bunyi
Ende, 30 Oktober 2012
NYEPI
Sunyi itu embun hati
Sekilas datang lalu pergi
Tapi set’lah memberi arti
Sunyi itu embun hati
Sekilas datang lalu pergi
Tapi set’lah memberi arti
Dunia
direkamnya bening
Diperlihatkannya hening
Utuh, meski dalam sebutir
Diperlihatkannya hening
Utuh, meski dalam sebutir
Maka aku bersaksi lagi:
Sunyi itu ruang hati
Sajadah suci bersamadi
Sunyi itu ruang hati
Sajadah suci bersamadi
Bersyukurlah tanpa tutur
Bermadahlah tanpa kata
Selamat Nyepi, saudaraku!
Bermadahlah tanpa kata
Selamat Nyepi, saudaraku!
Ende, 5
Maret 2011
Catatan:
“Butir-Butir Embun di Bening Hening Sunyi” dimuat pada Harian Umum Flores Pos
edisi Kamis, 4 April 2013, halaman 10.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar