20 Desember 2011

Natas Lehong, Pusatnya Manggarai Timur (2/Habis)


Indah secara Visual, Matang secara Konseptual

Oleh Frans Anggal

SEBELUM tinggalkan Lehong, kami putar-putar sebentar di area terbuka (open space), tepat di depan bangunan kantor bupati. Dalam master plan sang arsitek, ruang terbuka ini berbentuk lingkaran, berdiameter 190 meter, dengen luas 2,85 ha. Tepat di titik pusatnya akan dibangun tugu tempat terpancangnya tiang bendera.

“Ini semacam compang atau tiang persembahan pada pola perkampungan Manggarai," kata Firman Demorin, sang arsitek, kala menjelaskan master plan di rumah singgah di Peot sesaat sebelum kami ke Lehong. Ia lulusan Universitas Atmajaya Yogyakarta 2004, bukan 2009 seperti disebutkan sebelumnya.

Dengan sebuah titik pusat, jika dilihat dari atas, tata ruang Natas Lehong tampak tidak hanya seperti beo (perkampungan), tapi juga seperti lodok (kebun berpola jaring laba-laba). Inilah "pola konsentris atau radial terpusat" dalam istilah Firman. Sebuah transformasi pola perkampungan Manggarai ke dalam pola rencana tata bangunan lingkungan.

Saat kami lewat mengitarinya, titik pusat bakal tugu tiang bendera itu sudah ditandai dengan pancangan sebatang tiang bambu setinggi 5 meter. Dari titik itu, hamparan gusuran sudah meluas ke barat dan utara.

Gusurannya dalam. Maklum, Lehong itu miring, maka harus diratakan. Lapisan atas tanahnya (top soil) tidak bagus sebagai penyangga bangunan. Tanahnya liat dan lengket di kala hujan. Kering dan terbelah di saat kering.

Pada beberapa jalur, lapisan tanah setebal kurang lebih 1 meter itu sudah digusur buang. Sebuah buldoser, eksavator, dan vibro sedang parkir, istirahat. Gerimis terus mengguyur. Ban mobil kami tetap menggelinding di atas tanah licin, untuk kemudian balik ke arah kami datang.

Kami tinggalkan Lehong. Puas.


"NATAS Lehong itu perkampungan Manggarai berdesain modern, dengan konsep tiga batu tungku, trias politica," kata Bupati Yoseph Tote. Ia ditemui di rumah jabatan di Golo Lada, sore jelang malam, sepulangnya kami dari Lehong.

Tiga batu tungku tergambar jelas dalam master plan. Perkantoran melingkar bak belanga itu diapiti tiga bangunan pada tiga titik terluar. Yakni, bangunan eksekutif (kantor bupati), bangunan legislatif (kantor DPRD), dan bangunan yudikatif (kantor kepolisian, kejaksan, dan pengadilan).

Pater John Dami Mukese SVD yang tertarik dengan konsep ini langsung menyahuti bupati. Ia mengusulkan agar kompleks pusat pemerintahan itu tetap dinamai "Natas Lehong" dengan konsep "Likan Telu". Likan Telu merupakan padanan kata dalam beberapa bahasa di Manggarai Timur untuk Tiga Batu Tungku.

Bupati menyambut positif usulan ini. Namun ia menambahkan, perlu ada satu unsur lagi. Unsur masyarakat. Karena itu, di luar kompleks pusat pemerintahan akan dibangun perumnas, 365 rumah. Angka ini menarik. Jumlahnya sama dengan jumlah hari dalam setahun. Hmm, Natas Lehong kaya akan simbol.

"Perlu ada permukiman," kata bupati. "Di mana-mana, kompleks pemerintahan tanpa permukiman pasti mati."

Langkah ke arah ini sudah ia tempuh. "Saya minta lagi tanah 3,3 ha dari masyarakat. Sudah diusahakan dan sedang dalam proses sertifikasi. Lagi, 5 ha sedang diusahakan."

Rumah-rumah itu nantinya untuk PNS. "Kita butuh yang penuhi syarat. Cicilannya Rp500-750 ribu per bulan, selama 10 tahun. Akan disetor ke kas daerah. Jadi, semuanya berpihak kepada kepentingan daerah."

Tidak hanya permukiman. Di dalam kawasan Lehong akan dibangun pula SD dan SMP, tahun 2012. Ini salah satu pemenuhan pelayanan publik bagi warga perumnas dan warga lain sekitarnya.

Dengan ditetapkannya Natas Lehong sebagai pusat pemerintahan, maka daerah pesisir akan terfokus menjadi daerah niaga, yang didorong oleh pariwisata. "Dampaknya nanti, pertumbuhan ekonomi masyarakat lebih cepat."

Dari master plan, tampak jelas, Natas Lehong sebagai pusat pemerintahan benar-benar didukung oleh ruas jalan yang telah, sedang, dan akan dibangun dari dan menuju natas itu.

"Yang dirilis sekarang ada empat arus. Dari Paka, Kembur, Waereca, dan Jawang," kata bupati.

"Dengan demikian, posisi Lehong berada di tengah-tengah Borong. Ke Lehong, orang bisa datang dari mana saja."

Perencanaan natas pusat pemerintahan ini sudah mempehitungkan pula wilayah konservasi.

"Lehong tetap pertahankan lingkungan," kata bupati.

Ini tercermin dalam master plan. Di atas kawasan 500 ribu meter persegi, ruang terbuka hijau mencapai 60 persen. Sedangkan area terbangunnya 40 persen. Ada jalan raya selebar 30 meter bermodel boulevard. Ada area terbuka hijau, taman, dll. Ada area taman hijau yang masih dimungkinakan untuk dikembangkan. Ada pula area taman kota dan area pedestrian di pusat alun-alun.

"Konsep jalannya tidak hanya ramah terhadap lingkungan, tapi juga ramah terhadap manusia," kata Firman.

"Ada pedestrian ways. Ada juga untuk kaum difabel." Ini istilah yang tepat untuk kaum cacat: different ability people (difabel), orang yang berkemampuan berbeda. Bukannya tidak berdaya dan dibelaskasihani.

Luar biasa. Natas Lehong, sebuah karya monumental. Sudah pasti menguras otak, batin, waktu, tenaga, dan dana.

"Lehong, kalau jadi semua, habiskan Rp35 miliar," kata bupati. "Yang sudah dihabiskan Rp18 miliar."

Ia akui, ini perjuangan habis-habisan. Namun ia optimistis. "Orang bilang, kantor bupati belum ada uang. Tidak benar belum ada uang. Ada! Hanya, sekarang sedang diusahakan."

Menurutnya, mindset eksekutif perlu diubah. "Dana perlu diusahakan. Jangan hanya tahu gunakan. Birokrat harus kreatif dan inovatif. Tanpa itu, berapa kita punya PAD? Tidak kuat!"

Natas Lehong pun jalan terus. Targetnya, 2012 diresmikan. Bertepatan dengan HUT Kabupaten Manggarai Timur.


KELUAR dari rumah jabatan bupati, ada rasa puas. Sebagaimana puas setelah melihat Lehong, kami pun puas setelah beraudiensi dengan sang nakhoda Manggarai Timur.

Hanya bermobil satu dua menit dari rumah jabatan bupati, kami sudah tiba di Kevikepan, tempat kami menginap.

Malam semakin larut ... Natas Lehong seakan tetap menggelantung di pelupuk mata. Ulasan sang nakhoda seakan tetap terngiang di telinga.

Natas Lehong sungguh telah direncanakan dengan baik. Mudahan-mudahan tuntas terlaksana dengan baik pula. Ini sebuah pusat pemerintahan, yang tidak hanya indah secara visual, tapi juga matang secara konseptual.

Flores Pos Selasa 20 Desember 2011

1 komentar:

super mengatakan...

Lehong kota perkantoran modern untuk pulau flores. Semoga sukses