17 Desember 2011

Hutan Pantai di Iteng (1)


Sebuah Nama yang Tidak Lazim

Oleh Frans Anggal

KELUAR dari kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulumbu di Desa Wewo, Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai, kami tiba di pertigaan Ponggeok. Kalau belok ke utara berarti ke Ruteng, ibu kota kabupaten. Kalau tikung ke selatan berarti ke Iteng, ibu kota kecamatan. Ruteng, sudah. Itu kota kami inap. Titik dari mana kami datang siang itu, Jumat 9 Desember 2011. Maka … ke Iteng lah. Cuma 30 menit koq.

Mobil Daihatzu Taft Hi Line pun meluncur menuju kota pantai itu. Jalannya berhotmiks mulus. Menurun terus dan banyak kelokan. Pintar-pintar saja injak rem. Dan itu urusan sopir, Om Flavi. Saya dan Pater John Dami Mukese SVD "pasrah-pasrah" saja. Baru kali itu pemimpin umum Flores Pos ini ke Iteng. Demikian juga Om Flavi. Maka, saya yang pernah lima kali ke sini pede mati punya. Bisa berlagak jadi pemandu, seolah-olah tahu semua sana sini dan ini itunya jalan ke Iteng.

Kian mendekati Iteng, jalannya kian mulus dan lurus. Seperti jalan tol. Om Flavi makin tancap gas saja. Terpaan angin tambah keras. Saya dag dig dug. Maka … saya cari akal.

"Di sini tempat celakanya Pater Saverinus Pambut," kata saya kepada Pater Dami, dengan volume suara yang pasti terdengar jelas oleh Om Flavi.

"O ya," sahut Pater Dami.

Pater Saverinus Pambut SVD adalah misionaris di Papua New Guinea. Saat datang cuti ke kampung halamannya di Kecamatan Satarmese belasan tahun silam, ia tewas dalam lakalantas tunggal. Kala itu ia sedang bersepeda motor melintasi ruas jalan yang sedang kami lalui. Persisnya di ruas jalan mana, saya tidak tahu. Saya terka-terka saja, sekadar "mengingatkan" Om Flavi agar mengurangi kecepatan. Dan, cara ini ternyata sukses, he he.

Idealnya, menuju Iteng melaju pelan saja. Dengan demikian, landskapnya enak tercerap. Persawahannya membentang kiri dan kanan. Sejauh mata memandang, ya, sawah. Seakan-akan terhampar hingga bibir pantai Laut Sawu. Hijau …. Segar ….

Persawahan Iteng merupakan salah satu gudang beras Kabupaten Manggarai. Lainnya adalah persawahan Narang di Kecamatan Satar Mese Barat. Satu-satunya jalan terpendek yang digunakan dalam berbagai transaksi ekonomi antara masyarakat kota Ruteng dan masyarakat Kecamatan Satarmese adalah ruas jalan ini. Dan inilah satu-satunya jalan provinsi di Kabupaten Manggarai. Adapun ruas jalan lainnya, Ruteng-Reo, telah berubah status menjadi jalan nasional sejak 2010.


MASUK Iteng. Melintas depan kompleks kantor camat. Di sisi kanan di tepi tanah lapang. Rumah itu masih seperti dulu, saat saya pertama kali datang tahun 1990-an. Sebuah rumah papan lantai dua. Orang di Manggarai biasa menyebutnya "rumah tingkat".

"Itu rumahnya Kraeng Simpel Bero," saya mengarahkan telunjuk.

Pater Dami kenal nama ini. Simpel Bero adalah camat pertama Satarmese. Semasa hidupnya, ia tetap jadi tokoh, meski tidak lagi jadi pejabat. Anak-anaknya sudah jadi orang. Felomena Burhan, istri Frans Dula Burhan, bupati ketiga Manggarai. Paulus Bero, sekarang sekda Manggarai. Yeremias Bero, imam SVD, kini bertugas di Labuan Bajo, Manggarai Barat. Dll.

Dari situ mobil kami membelok ke kanan. Lurus terus. Memasuki ruas jalan depan Mapolsek dan Puskesmas Iteng, tampaklah sesuatu yang langsung menumbuk mata. Sebuah hutan. Unik. Karena ini hutan heterogen di tepi pantai. Pantai-pantai di Flores kebanyakan punya hutan homogen, hutan bakau. Juga unik, karena hutan satu ini sangat mencolok. Menjulang, rimbun, dan hijau sendirian di tengah savana Iteng.

Hutan jenis inilah yang biasa disebuat hutan pantai. Ekosistemnya di daerah-daerah kering tepi pantai. Dengan kondisi tanah berpasir atau berbatu. Dan terletak di atas garis pasang tertinggi. Daerah seperti itu umumnya jarang tergenang air laut. Namun sering terkena angin kencang dengan embusan garam.

Maka, lazimnya, spesies pohon dalam ekosistem hutan jenis ini adalah Barringtonia asiatica, Terminalia catappa, Calophyllum inophyllum, Hibiscus tiliaceus, Casuarina equisetifolia, dan Pisonia grandis. Kadang-kadang juga terdapat spesies Hernandia peltata, Manilkara kauki, dan Sterculia foetida (http://ekologi-hutan.blogspot.com)

Situs resmi Pemkab Manggarai menggolongkan hutan pantai Iteng sebagai salah satu objek wisata alam. Lainnya, Ulumbu, dengan sumber gas alam atau panas bumi serta mata air panasnya. Juga Liang Bua, dekat Ruteng, gua besar dengan batu tetesan atas bawah, tempat ditemukannya benda-benda purbakala dan fosil Homo floresiensis yang terkenal.

Kami belum langsung ke hutan itu. Tapi hanya mendekat. Karena kami menyinggahi salah satu rumah terdekat. Yang terletak persis di tengah-tengah antara puskesmas dan areal hutan. Rumahnya Mantri Sius Nggaur. Dari Mantri Sius dan putra sulungnya, Obin, kami memastikan nama hutan itu dalam lafal yang jelas tegas. Sebuah nama yang tidak lazim untuk lidah dan telinga orang Manggarai: Ine Mbele.


Ine Mbele. Ini bukan kosa kata Manggarai. "Ine" itu ibu, bahasa Bajawa, Nagekeo, Ende, dan Lio. "Mbele"? Ini yang tidak jelas. Tapi bunyinya berkerabat dengan bunyi kata dalam bahasa Ende dan Lio: "mbere", yang berarti mengalir. Bajawa: "bere", mengalir, juga bisa berarti tas gantung tempat sirih pinang, tembakau, dll.

Dalam kawasan hutan itu ada mata air. Sumber air ini menghidupi warga sekitar, selain air kali Wae Koe di seberangnya, yang bermuara ke Laut Sawu. Terasa masuk akal kalau nama pemberian pertama terhadap hutan itu adalah Ine Mbere. Ibu yang mengalirkan air. Bandingkan dangan nama dua gunung api di Ngada dan Nagekeo. Ine Rie, ibu riang-riang. Ine Lika, ibu tungku api.

Besar kemungkinan, masyarakat di Iteng salah dengar dan akhirnya salah ucap ketika nama imporan itu disebut-sebut. Salah paham, salah dengar, dan akhirnya salah ucap bukanlah fenomen baru dalam penamaan atas sesuatu atau seseorang. Ada contohnya: sebuah lema yang sudah (lama) masuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Yaitu, "meriam".

KBBI menjelaskan, meriam = senjata berat yang larasnya besar dan panjang, pelurunya besar, sering diberi roda untuk memudahkan pengangkutannya. Jadi pertanyaan: kenapa namamya "meriam"? Dalam banyak bahasa asing, nama senjata jenis ini adalah "cannon". Sama sekali tidak ada kekerabatan bunyi sedikit pun dengan "meriam".

Inilah penamaan akibat salah tafsir, salah dengar, dan akhirnya salah ucap itu. Terjadi pada saat penjajahan Portugis di Indoensia. Tentara Portugis yang Katolik selalu mengucapkan "Ave Maria" (semacam bismillah) sebelum melepaskan tembakan dari senjata berat jenis ini. Orang Indonesia yang mendengarnya mengira itulah nama senjatanya. "Ave Maria", terdengar salah, dan akhirnya dipersingkat saja jadi "meriam".

Kembali ke Ine Mbele. Apakah ini nama yang lahir dari salah dengar dan salah ucap? Wallahualam. Apalah arti sebuah nama. Yang menjadi pertanyaan: kalau Ine Mbele berasal dari Ine Mbere, yang berarti ibu yang mengalirkan air, masihkan mata air di hutan pantai itu jernih dan membual seperi sediakala, ketika atas dasar itu namanya diberikan? Jawabannya ada di hutan itu. Ketika kami datang dan menyaksikan sendiri …. ***

Flores Pos Jumat 16 Desember 2011

Tidak ada komentar: