21 Februari 2012

Sekilas Lintas dari Ende ke Mbay (3/Habis)


“Itu Pohon yang Dulu Kami Tanam”

Oleh Frans Anggal

MINIBUS Suzuki biru memasuki Sorowea. Ini salah satu desa dalam Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo. Agak oleng-kemoleng. Permukaan jalannya bergelombang. Tapi tidak macet-macet lagi seperti pada lokasi proyek pelebaran jalan di ujung Nangaroro dan Boatue. Pelebaran belum sampai di Sorowea.

"Di sini pertama kali kami lakukan penghijauan," kata Pater Alex Ganggu SVD. Dia duduk di samping kanan saya. Kami berdua pada kursi barisan tiga, paling buntut. Barisan dua ditempati Pater Severinus Binsasi SVD dan Pater Alexander Ola Pukan SVD. Paling depan, Pater John Dami Mukese SVD dan sopir Om Vitalis.

"Itu pohon yang dulu kami tanam," kata Pater Alex Ganggu. Ia menunjuk ke utara jalan.

"Tahun berapa itu?" tanya Pater Dami dari depan.

"Tahun sembilan enam." Maksudnya 1996.

Dari ketinggian, pandangan kami langsung terarah ke batang dan rimbunan pepohonan yang sudah besar-besar. Seluruh bukit yang sebagiannya penuh bebatuan itu sudah ditanami. Dari tanah yang pada titik tertenu mencapai 45 derajat kemiringannya, rimbun menghijau gamal, jambu mete, kakao, dan berbagai pohon buah-buahan.

Di sebuah belokan tak jauh dari tempat pohon-pohon besar itu menjulang, Pater Alex mendekatkan wajah ke jendela pintu mobil. Ia bertegur sapa dengan dua orang lelaki.

"Saya kenal banyak orang di sini," katanya. Mobil terus melaju.

Ini perjalan kedua saya bersama Pater Alex. Sudah lama saya mengenal dia. Dia dosan saya di STFK Ledalero tahun 1980-an. Ia mengampu mata kuliah psikologi. Bicaranya runtut. Penjelasannya jernih. Mudah dipahami. Berkat kuliahnya, saya masih ingat baik pemikiran dari Sigmund Freud, Carl Gustav Jung, dan Paulo Freire.

Pada 30-an tahun lalu itu, ada satu hobinya yang sangat menonjol. Bikin koker bunga dan anakan pohon. Banyak dan bermacam-macam jenisnya. Tampaknya, tanaman apa saja yang indah di matanya pasti ia pelihara. Depan dan samping kamarnya penuh tanaman, dalam pot dan polibag. Setiap pagi dan sore dia ada di situ. Menyiram sambil mengepulkan asap dari Bentoel Biru, rokok kesukaannya.

Apa yang telah dimulainya 30-an tahun lalu ternyata dilanjutkannya secara konsisten. Dari ruang sempit depan dan samping kamarnya di Ledalero, kiprahnya di bidang lingkungan hidup kemudian meluas ke mana-mana. Hingga ke Sorowea dan banyak tempat lain. Jati putih yang kini besar menjulang di kebun depan Biara Bruder Konradus (BBK) Ende adalah bekas tangannya.

Dari ruang kuliah mahasiswa di Ledalero, pemikiran Paulo Freire yang ia ajarkan ia wujudnyatakan kemudian ke dalam ruang kehidupan masyarakat luas.

"Yang dilakukan Pater Alex di Sorowea tahun 1996 itu praktik metode penyadaran," kata Pater Dami di ruang redaksi Flores Pos, Rabu 15 Februari 2012. Pater Dami meneruskan apa yang pernah diceritakan Pater Alex kepadanya.

Benar sudah. Metode penyadaran itu metodenya Paolo Freire. Metode konsientisasi. Ini kata kunci Pater Alex dalam kiprahnya selama ini, termasuk ketika dia masih sebagai Ketua Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Agung Ended dan kemudian Ketua Komisi Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (Justice, Peace, and Integration of Creation/JPIC) SVD Ende.


DALAM diskusi bulanan Flores Pos akhir Desember 2007 bertajuk "Pemanasan Global, Respon Lokal", kata kunci konsientisasi itu pulalah yang diucapkan Pater Alex saat tampil sebagai salah satu pembicara.

Dikusi ini mencuatkan kesadaran akan perlunya upaya konsientisasi. Kalau semua pihak memiliki kesadaran yang sama maka langkah bersama mudah diayunkan untuk menyelamatkan dunia dari 'kiamat ekologis'.

"Konsientisasi merupa¬kan model pendidikan yang membebaskan, yang ditawarkan Freire untuk mengatasi masalah penindasan," tulis Frans Anggal dalam "Bentara" Flores Pos Sabtu 22 Desember 2007, mengapresiasi diskusi tersebut. "Konsientisasi mengacu pada proses di dalamnya manusia bukan objek atau penerima, tetapi subjek yang mengetahui, menya¬dari secara mendalam kenyataan sosial-budaya yang membentuk kehidupannya, dan sadar akan kemampuannya sendiri untuk mengubah kenyataan itu.

"Proyek konsientisasi Freire masuk melalui pemberantasan buta huruf dewasa. Bukan dengan pelajaran membaca yang menjejali peserta didik seperti 'sekolah model bank' yang dikritiknya. Ia menggunakan metode pendidikan yang berangkat dari pengalaman sehari-hari subjek pembelajar. Jadinya, lebih dari sekadar pemberantasan buta huruf, proyek pendidikan Freire menjadi sebuah gerakan budaya yang menumbuhkan kesadaran kritis masyarakat.

"Kalau kita mau menyelamatkan dunia dari kiamat ekologis, metode konsistisasi Freire dapat diandalkan. Flores-Lembata memiliki Gereja, LSM, kaum intelektual, dan kelas menengah yang terpanggil menyelamatkan keutuhan ciptaan. Yang perlu dilakukan bukanlah sekadar aksi dari atas menara gading yang steril. Freire sendiri menghabiskan beberapa tahun di Guinea-Bissau, Afrika Barat, untuk bersama-sama masyarakatnya belajar dan mencari sistem pendidikan yang sesuai bagi kondisi khas mereka. Contoh lain, para rohaniwan Amerika Latin berani meninggalkan kemapanan gedung paroki untuk tinggal di kampung kumuh berlumpur, di tengah tempat pembuangan sampah berbau busuk, menghayati kemiskinan seraya mengajak masyarakat belajar memperjuangkan hak-hak mereka. Dengan apa? Dengan usaha terus-menerus dalam spiral aksi-refleksi atau konsep praksis Freire yang melibatkan teori dan kerja lapangan, digerakkan oleh energi harapan dan cinta.

"Sangat jelas, metode konsientisasi Freire hanya bisa diterapkan kalau orang masuk ke dalam pengalaman tempat ia berinteraksi dengan dunia di mana ia berada. Ini yang belum optimal di Flores-Lembata, sehingga meski dampak buruknya sudah dirasakan berkali-kali dan terus meningkat, toh tetap saja hutan dirusak dan digunduli."

Apa yang belum optimal itulah yang justru selama ini dilakukan Pater Alex. Meski, tidak seradikal rohaniwan Amerika Latin, ia telah mempraktikkan metode konsientisasi dalam segala kertebatasan situasi dan kondisi. Ia mencerahkan kesadaran ekologis masyarakat. Ia merangsang motivasi masyarakat untuk mulai dan giat menanam pohon. Ia telah menjadi tokoh lingkungan hidup. Sebuah keanggunan seorang imam yang tahun ini akan merayakan pancawindu imamatnya (bukan emas imamat seperti diberitakan sebelumnya).


SOROWEA kami tinggalkan. Kantuk saya mulai datang. Selanjutnya lebih banyak diam.

Memasuki Aegela, retina mata kembali melebar.

Jalan Aegela menuju Mbay adalah lintasan eksotik. Jalurnya berkelok turun naik membelah savana. Ilalang hijaunya ditingkahi sembulan sporadis rimbun pepohonan. Hamparan datar padangnya diselingi longokan aneka leku pebukitan.

"Aku gak pernah mengira kalau aku akan menemukan sebuah pemandangan seperti di film-film koboi," tulis G'penk van Piyik dalam blognya. "Perbukitan yang indah, sepertinya aku berkuda mengembalakan ternak" (martyastiadi.wordpress.co).

Ia tampilkan lima foto memukau. Duanya jepretannya sendiri. Tiga lainnya kiriman temannya.

"Ketiga foto itu saat musim kemarau, Agustus 2005, disumbangkan oleh sahabatku, Esti Wahyuni (wartawan Yayasan Pantau, Jakarta)," tulis G'penk. "Wah pingin hidup di sini neh …. Menggembala ternak …."

G'penk tidak berlebihan, saya kira. ***

Kamis, 16 Februari 2012

Tidak ada komentar: