17 Januari 2010

Lembata: Jadilah Humus

Lembata Miliki Tiga Kantor Bupati

Oleh Frans Anggal

Pembangunan kantor bupati Lembata di Lamahora belum rampung. Pembangunannya dimulai sejak 2007. Dan, sudah menelan Rp23 miliar. Ini kantor ketiga. Maka, dalam hal jumlah kantor bupati, Lembata ’hebat’, sebagaimana diwartakan Flores Pos Jumat 8 Januari 2010.

Betapa tidak, usia kabupaten ini baru sepuluh tahun, tapi sudah miliki tiga kantor bupati. Satu di tengah kota Lewoleba. Dua lainnya di Lamahora dan Lusikawak. Berbeda dengan yang di Lamahora yang masih terus dikerjakan karena belum rampung namun sudah habiskan Rp23 miliar, kantor bupati di Lusikawak praktis sudah tidak diteruskan pembangunannya. Mandek. Tapi sudah habiskan hampir Rp8 miliar.

Bukan hanya mandek, kantor yang dibangun sejak 2000 itu juga terlantar. Bangunannya dikelilingi rumput liar. Jadi tempat peristirahatan kambing pula. Benar-benar ’hebat’. Sebuah kabupaten muda usia sudah demikian ’kaya raya’-nya, sehingga ’menghamburkan’ hampir Rp8 miliar hanya untuk sebuah ’kandang kambing mewah’. Dan ’kemewahan’ itu ’dipamerkan’ di tengah kemiskinan masyarakat, di tengah PAD yang masih miskin pula.

Semua ini hasil sebuah kebijakan. Kebijakan itu hasil sebuah pilihan. Pilihan itu lahir dari interese pemimpin. Dan interese itu sudah jelas jauh dari interese rakyat. Dengan interese yang jauh bahkan terpisah dari interese rakyatnya, sang pemimpin tidak membiarkan penderitaan masyarakat masuk di dalam hatinya. Dengan demikian, ia juga tidak ikut merasakannya bersama mereka. Ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Yaitu: humilitas atau kerendahan hati.

Anthony Bloom (1971) menjelaskan humilitas dengan sangat bagus. Humilitas itu kata Latin yang ada hubungannya dengan ”humus”, lapisan tanah yang subur. Tanah subur ada, tidak kentara, dianggap biasa untuk diinjak-injak. Sifatnya tidak menonjol, diam, hitam, tetapi selalu sedia menampung benih. Sedia menumbuhkannya dan memberinya hidup. Semakin rendah, semakin subur. Karena, kesuburan diperoleh dengan menerima semua buangan dari bumi. Karena rendahnya, ia tidak dapat dikotori, direndahkan, dihinakan. Tempat paling rendah sudah menjadi pilihannya. Maka ia tidak dapat direndahkan lagi.

Tak adanya humilitas. Ini salah satu ’penyakit kekuasaan’ yang melanda banyak pemimpin. Mereka tidak jadi humus yang menyuburkan, tapi eukaliptus yang menguruskan tanah. Mereka enggan menampung aspirasi, tapi lebih suka memberi instruksi. Mereka tidak bersedia ’direndahkan’, tapi menuntut ’ditinggikan’. Di tangan mereka, kekuasaan yang mengandung banyak ’penyakit’ itu tidak dianggap sebagai ’borgol’. Sebaliknya, dipandang dan diperlakukan sebagai ’gelang emas”: indanya, mahalnya, nikmatnya!

Yang menyedihkan, ’penyakit’ ini pun diidap para pengontrol kekuasaan. Para wakil rakyat. Alih-alih jadi humus, mereka ikut-ikutan jadi eukaliptus. Dalam kasus di Lembata: kenapa dalam sepuluh tahun usianya, kabupaten belia itu punya tiga kantor bupati? Salah satu penyebabnya adalah lemahnya kontrol para wakil rakyat.

Para wakil rakyat biarkan eukaliptus menyedot kesuburan Lembata. Sebagiannya mungkin ikut jadi eukaliptus dan tak rela jejaki kesejatian panggilan sebagi humus bagi rumput-rumput kecil. Akibatnya, humus hanya suburkan eukaliptus. Yang tersisa bagi rumput-rumput kecil hanyalah kegersangan.

Kita berharap DPRD Lembata yang baru, banting setir. Jadilah humus. Suburkan rumput-rumput kecil. Bukan tinggi julangkan eukaliptus. Apalagi kalau sampai ikut-ikutan jadi eukaliptus, yang tentu menyedot habis kesuburan Lembata. Kasihan rumput-rumput kecil, hanya kebagian kegersangan.

“Bentara” FLORES POS, Sabtu 9 Januari 2010

Tidak ada komentar: